/ May 26, 2017

Beberapa tahun lalu, Indonesia sangat fenomenal dengan istilah “Islam KTP”. Istilah fenomenal tersebut disandangkan kepada seseorang yang mengaku sebagai pemeluk Islam, yang ditunjukkan –secara formal– berupa identitas KTP (kartu tanda kependudukan). Meskipun pada realitanya Ia tidak melaksanakan kewajibannya (syariat) dan berakhlak seebagaimana seharusnya seorang muslim. Singkatnya, Islam KTP adalah mereka yang Islamnya hanya sekedar “identitas” dan “pengakuan”.

Fenomena Islam KTP nampaknya selalu menjadi wacana yang selalu aktual. Lebih-lebih sejauh ini label “KTP” atau “identitas” menyasar kepada sosok seorang “ulama”. Pengakuan identitas diri sebagai ulama. Karena sosok ulama di kalangan Islam adalah sosok yang paling mulia, jarang sekali ditemui penggunaan istilah “ulama KTP” sebagaimana istilah “Islam KTP” yang disandangkan kepada pemeluknya.

Saya pikir istilah “ulama KTP” perlu juga dipopulerkan seiring fenomena yang terjadi saat ini, yaitu maraknya seorang yang mengakui dirinya sebagai ulama. Bagi saya, pengakuan sebagai ulama baik dari golongannya bahkan oleh dirinya sangat menggelitik sekali. Lucu, bagaikan melihat dedek-dedek emesh.

Beberapa minggu yang lalu, jagat maya dihebohkan oleh video sosok –yang katanya- ulama yang sedang memamerkan “keharmonisan” kehidupan istri-istrinya. Sosok ulama tersebut berpoligami. Dalam videonya, Ia memberikan semacam wejangan kepada umat Islam Indonesia, khususnya. Ia menegaskan bahwa berpoligami adalah sunnah Rosul, dan sangat dianjurkan jika mampu membahagiakan kedua istrinya sebagaimana yang ia contohkan. Melihat video yang diunggahnya sungguh mengesankan sekali. Luar biasa. Allahu Akbar!

Seiring viralnya video itu, kemudian masyarakat “merespon” sikap ulama di video tersebut. Tentunya, respon videonya variatif, bahkan tak sedikit yang nyinyir sampai membuat video parodinya. Video parodi mendadak viral juga. Ke-viral-annya menuai kecaman keras dari pengikut ulama tersebut. Mereka mengecam karena video parodi tersebut dianggap telah menistakan ulama dan Islam. Duh, sedikit-sedikit menistakan. Tentu hal ini sangat disayangkan sekali.

Teringat dawuh Gus Mus, bahwa saat ini banyak mengaku ulama, tetapi mereka tak pantas menyandangnya karena keilmuan dan akhlaknya tidak tepat dengan makna ulama dan tugasnya sebagai ulama. Ulama tidak bisa diartikan dengan kata “kiai”. Karena ulama itu sendiri bukanlah terjemahan dari kiai.

Menurut Gus Mus, ulama itu produk masyarakat, mengenali masyarakat, dan masyarakat mengetahui secara persis track record ulama yang bersangkutan. Artinya, ulama tersebut jelas, baik secara sanad keilmuan dan perilaku lakunya. Dan yang terpenting, ulama adalah “yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah” (melihat ummat dengan pandangan kasih sayang).