Magister Karbitan

Tak perlu heran jika ada orang yang kita kenal dan sebelumnya tidak memiliki gelar tiba-tiba sudah mengantongi gelar akademik setingkat Magister dibelakang namanya. Padahal, mereka kelihatan tak pernah kuliah. Sekali lagi jangan heran kepada mereka yang mengantongi gelar akademik “kilat” ini dengan cara yang tidak wajar.

Untuk meraih gelar Magister bukanlah sesuatu hal yang sangat mudah. Sebagaimana saya mengamati senior saya dalam menempuh pendidikan Magisternya. Ia berjuang untuk memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh pihak kampusnya, seperti ketercapaian nilai IPK di tingkat S1, lulus seleksi masuk kuliah, Score TOEFL, dst. Belum juga dalam proses pelaksanaan kuliah. Seperti, harus memenuhi SKS tertentu, pembuatan makalah, melakukan penelitian, dan membuat tesis.

Continue reading “Magister Karbitan”

OSPEK Edukatif, Omong Kosong!

Hadirnya kurikulum baru tahun ini, ternyata MOS (masa orientasi siswa) tahun ini hampir tidak ada bedanya dengan MOS tahun sebelumnya. Siswa baru masih disibukkan dengan melengkapi pernak-pernik orientasi siswa baru yang nyaris tidak ada hubungannya dengan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Mungkinkah kegiatan rutin tahunan ini merupakan satu dari sekian banyak duplikasi kegiatan dari senior sebelumnya tanpa pengkajian ulang?

MOS memang menjadi puncak ajang pem-bully-an senior kepada junior di sekolah-sekolah. Di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang semuanya mengintimidasi juniornya, ancaman, pelecehan, hukuman, bahkan siksaan sering terjadi.

Kasus-kasus bully di sekolah-sekolah memang sudah cerita lama yang menjamur hingga sekarang, namun selalu tidak ada penanganan serius dari pemerintah. Dan yang lebih ironis lagi, kasus bully ini tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di perguruan tinggi yang notabene terdiri dari kelompok sosial berpendidikan tinggi. Perguruan tinggi seharusnya menjadi contoh bagi tingkat pendidikan di bawahnya, tetapi justru sebaliknya, bahkan mungkin lebih parah.

Continue reading “OSPEK Edukatif, Omong Kosong!”

Kuliah Prospek Pendidikan Pelengkap Industri

Seorang Ibu berkata kepada anaknya, “nak, kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS). Supaya hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang setiap hari harus bertani di sawah, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang. Coba lihat tetangga kita itu, sekolahnya tinggi, hidupnya enak, dan kamu harus mencontoh dia”.

Sementara dilain pihak seorang ibu berkata, “buat apa sekolah tinggi-tinggi? Dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, lebih baik uang sekolahmu dibelikan sapi, supaya beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada harus dibayarkan untuk sekolah. Coba lihat tetangga kita itu, sekolah jauh-jauh tapi setelah selesai menganggur dan akhirnya sekarang jadi tukang becak!”.

Continue reading “Kuliah Prospek Pendidikan Pelengkap Industri”