#Selfie4Siauw

Tepatnya tanggal 14 Desember 2014, dua bulan yang lalu. Tagar Selfie4Siauw menjadi trending topic dunia di twitter selama beberapa hari. Hal itu dipicu oleh kontroversi fatwa sang Ustadz pentolan Hizbut Tahrir yang mengharamkan foto selfie. Siapa lagi kalau bukan Felix Siauw. Seorang artis dan juru dakwah kaum Khilaf(ah) yang dakwahnya penuh kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia.

Dikatakan penuh kontroversi bukan tanpa alasan yang jelas. Coba kita amati bagaimana dia berdakwah yang sangat mudah mengumbar fatwa-fatwa haram, dosa, musyrik, dan lainnya. Termasuk fatwanya beberapa bulan yang lalu. Menurutnya, selfie adalah perbuatan dosa. Karena perbuatan selfie akan berujung pada sifat takabur, riya’, dan ujub. Bahkan, dia juga menuturkan bahwa yang namanya foto selfie tidak ada manfaatnya dan malah banyak mudharatnya.

Continue reading “#Selfie4Siauw”

Negeri Khilafah Negeri Absurd

Polemik mengenai relevan atau tidaknya sistem khilafah untuk menjalankan roda pemerintahan di Indonesia masih sengit diperdebatkan di kalangan umat Islam. Memberlakukan syariat Islam secara total dan dipimpin oleh seorang raja muslim. Mungkinkah umat muslim di Indonesia mau bersepakat dan menerima sistem pemerintahan khilafah? Meskipun tidak mendengarnya secara langsung, saya yakin jika sebagian besar mayoritas umat Islam akan menolaknya.

Bagi hizbiyyin – sebutan bagi aktifis hizbut al-Tahrir – khilafah adalah solusi bagi kemajuan umat Islam, bahkan mereka juga memaparkan beberapa hujjah dari ayat al Qur’an dan al Hadist untuk meligitimasi pandangan dan ideologinya.

Paparan mereka mengenai urgensi mewujudkan khilafah islamiyah yang terjadi di jejaring sosial, baik di facebook dan twitter, menurut hemat saya, tidak cukup meyakinkan bahkan gampang dipatahkan dengan argumentasi yang sederhana. Saya berani mengatakan bahwa khilafah islamiyah bukan hanya sekedar tidak realistis, melainkan untuk mewujudkannya sangatlah absurd.

Continue reading “Negeri Khilafah Negeri Absurd”

Menelusuri Jejak Hizbut Tahrir di Indonesia

Sebenarnya kelompok besar HTI adalah Ikhwanul Muslimin yang pusatnya di Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada tahun 1928. Pendiri Ikhwanul muslimin adalah Syaikh Hasan Al-Banna. Sedangkan Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An-Nabhani. Konsepsi pemikiran Hasan Al-Banna ini berusaha untuk mengakomodasikan kelompok salafi wahabi dengan merangkul kelompok tradisional yang mungkin prilaku keagamaannya sama dengan NU dan juga merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh Mohammad Abduh. Hasan Al-Banna menyatakan bahwa ikhwanul Muslimin adalah harkah islamiyah, sunniyah dan salafiyah. Jika hal tersebut diakomodasi semua, maka Ikhwanul Muslimin menjadi besar.

Dalam Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimn yang sangat rahasia. Kader yang berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer, dibawah komando langsung Ikhwanul Muslimin. Para militer dan milisi ini menarik kelompok-kelompok sekuler yang ingin belajar tentang disiplin ilmu militer. Seperti, Gammad Nasser dan Anwar Sadat juga belajar pada Tandhimul Jihad ini.

Continue reading “Menelusuri Jejak Hizbut Tahrir di Indonesia”