/ September 1, 2017

Tanggal 8 – 13 Dzulhijjah merupakan momentum inti pelaksanaan ibadah haji. Momentum ini lebih dikenal dengan sebutan harinya haji. Karena pada momentum inilah dilaksanakan rentetan (rukun) ibadah haji. Pada puncaknya, bertepatan pada 10 Dhulhijjah dilaksanakan lempar jumrah (jamaraat) dan penyembelihan hewan qurban atau dikenal dengan hari raya Idul Adha.

Lempar jumrah adalah simbol perlawan terhadap setan. Jamaraat mengingatkan peristiwa Nabi Ibrahim yang bermaksud menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ketika Ibrahim bermaksud menyembelih Ismail untuk melaksanakan perintah-Nya, tiba-tiba datanglah setah menghampiri yang bermaksud menggoda Ibrahim agar menghentikan niatnya untuk menyembelih Ismail. Kemudian, Ibrahim mengambil tujuh kerikil dan melemparnya ke setan. Sehingga pada akhirnya, Ibrahim mampu melaksanakan perintah-Nya untuk menyembelih Ismail yang kemudian digantikan oleh seekor domba.

Setalah dilakukan jamaraat, hewan disembelih (qurban) sebagai cara untuk memperingati kisah Ibrahim dan Ismail. Qurban berbeda dengan korban perasaan. Secara harfiyah, qurban berasal dari kata qurubayaqrubuqurba wa qurbana yang berarti “mendekat” atau “pendekatan”. Secara esensi, qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, berqurban sepenuhnya lillahi ta’ala.

Bila dicermati lebih jauh, peristiwa penyembelihan yang dilakukan Ibrahim kepada Ismail yang kemudian digantikan oleh seekor domba memiliki esensi yang sangat mendalam. Peristiwa ini tidak hanya sekedar memerintahkan “penyembelihan hewan”. Pada esensinya, pertistiwa ini memerintahkan manusia untuk berqurban terhadap apa-apa yang dicintainya. Karena itu, Allah perintahkan Ibrahim menyembelih seseorang yang dicintainya, yaitu putranya Ismail.

Menyembelih (qurban) sesuatu yang dicintai bukanlah perkara mudah. Apalagi hal itu dilakukan kepada buah hatinya sendiri, mustahil itu terjadi jika bukan karena ketaatan dan pemasrahan dirinya kepada-Nya. Karena itu, dalam praktiknya, berqurban dilakukan kepada hewan yang berarti menyembelih harta-benda yang dicintai sebagai representasinya.

Sebagaimana esensi qurban tersebut, setiap manusia semestinya melaksanakan qurban terhadap apa-apa yang dicintainya, baik berupa harta, menundukkan hawa-nafsu, atau bahkan berqurban perasaan bagi jomblo. Kok berqurban perasaan? Ya, berqurban dari godaan mantan yang ngajak balikan atau perasaan mangkel karena tidak kunjung diberi kepastian oleh gebetan. Bila godaan mantan dan perasaan mangkel kepada gebetan semakin akut, maka kemudian lakukanlah jumaraat ke muka mantan atau gebetan agar terhindar dari godaan-godaan tersebut.

Qurban perasaan bukanlah perkara mudah bagi jomblo. Karena perasaan yang dimiliki jomblo adalah sesuatu yang sangat berharga dan dicintai oleh dirinya. Bila jomblo mampu melakukan hal ini dengan taat dan penuh pasrah, maka Allah akan menggantinya dengan seeokar domba seorang pendamping hidup sehingga dapat menatap masa depan yang lebih jelas dan terarah.