Baper Iku Kudu Ngopi!

Fanatisme dalam beragama cendrung berpikir harus “mengagamakan” semua hal, misal dari pakaian, bahasa, sampai dalam hal ritual. Kecendrungannya berdasarkan penafsiran sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan beragama. Lalu, mereka mendefinisikan agama sebagaimana yang diyakininya. Hal-hal yang diyakini baik akan dinisbahkan untuk mendukung pemahamannya. Seolah mereka lupa bahwa agama tidak tergantung pada anggapan manusia.

Terlalu merasa paling benar dalam beragama merupakan gejala fanatisme. Anggapan berlebihan (fanatisme) kepada hal yang diyakininya dalam prespektif anak gaul disebut dengan istilah “baper” atau dengan kata lain “bawa perasaan”. Ya, baper dalam beragama. Sedikit-dikit mengatakan orang lain yang tak sepaham haram, bid’ah, kafir, dan lainnya.

Continue reading “Baper Iku Kudu Ngopi!”

Selamat Hari Santri (NU) Nasional

22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo. Momentum hari santri telah dirayakan pertama kalinya sejak 22 Oktober tahun lalu.  Sesuai dengan janji Presiden di Malang, pada masa kampanyae Pilpres 2014, tanggal 1 Muharram akan dijadikan Hari Santri Nasional.

Lalu, apa alasan yang mendasari penetapan hari santri. Berikut sebagian cuplikan pidato Presiden pada saat deklarasi Hari Santri Nasional 22 Oktober, tahun lalu.

Continue reading “Selamat Hari Santri (NU) Nasional”

Mbak Hijaber, Bolehkah saya berta’aruf

Malam ini, berawal dari obrolan saya bersama teman se-pondok dulu, sambil menyesap nikmatnya kopi dan rokok, kami saling berkomentar panasnya politik di Ibu Kota saat ini. Di sebuah tempat ngopi, saya melihat muda-mudi berkelompok tengah asik menikmati obrolan mereka.

Di sebelah kanan saya, ada tiga mbak-mbak bercakap-cakap. Obrolan mereka sangat terdengar jelas. Lumayan berisik. Awalnya terdengar obrolan seputar tugas kuliah yang njlimet sampai menjelek-jelekkan dosen mereka sendiri. Di sela-sela obrolannya, salah satu mbak yang suaranya cempreng seolah membuyarkan topik pembicaraan mereka, Ia melontarkan komentar secara sinis, “Si anuh itu ngapain sih berhijab. Sok syar’i pula. Hijabnya itu loh, hampir menyentuh kaki, susut sampe sepunggung. Ga bikin ribet apa…” Seketika komentar itu langsung direspon secara relfek oleh dua teman lainnya.

Continue reading “Mbak Hijaber, Bolehkah saya berta’aruf”