Memadukan Sistem Salaf dan Khalaf dalam Pendidikan Pesantren

Pesantren telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dan selama itu telah terbukti berhasil membentuk pribadi-pribadi manusia yang ber-akhlakul karimah, baik, bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya, mandiri dan tidak goyah dalam mengarungi kehidupan.

Masyarakat memandang zaman telah berkembang menuju era globalisasi. Mereka menuntut pesantren sebagai institusi pendidikan untuk melakukan akselerasi dan transformasi yang cukup signifikan. Jika dahulu ruang lingkup output terbatas pada dimensi keagamaan saja, maka saat ini pesantren diharapkan dapat banyak berkonstribusi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dilatar belakangi hal itu klasifikasi pesantren menjadi berubah. Dulu, mungkin kita mengenal satu buah pesantren, pesantren dengan sistem salaf. Pesantren yang memiliki menejemen dan administrasi pesantren yang sangat sederhana, dengan sistem pengelolaan pesantren berpusat pada aturan kyiai yang diterjemahkan oleh pengurus pesantren. Tercatat sekitar 8.905 pesantren salaf ada di Indonesia.

Continue reading “Memadukan Sistem Salaf dan Khalaf dalam Pendidikan Pesantren”

Menelusuri Jejak Hizbut Tahrir di Indonesia

Sebenarnya kelompok besar HTI adalah Ikhwanul Muslimin yang pusatnya di Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada tahun 1928. Pendiri Ikhwanul muslimin adalah Syaikh Hasan Al-Banna. Sedangkan Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An-Nabhani. Konsepsi pemikiran Hasan Al-Banna ini berusaha untuk mengakomodasikan kelompok salafi wahabi dengan merangkul kelompok tradisional yang mungkin prilaku keagamaannya sama dengan NU dan juga merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh Mohammad Abduh. Hasan Al-Banna menyatakan bahwa ikhwanul Muslimin adalah harkah islamiyah, sunniyah dan salafiyah. Jika hal tersebut diakomodasi semua, maka Ikhwanul Muslimin menjadi besar.

Dalam Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimn yang sangat rahasia. Kader yang berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer, dibawah komando langsung Ikhwanul Muslimin. Para militer dan milisi ini menarik kelompok-kelompok sekuler yang ingin belajar tentang disiplin ilmu militer. Seperti, Gammad Nasser dan Anwar Sadat juga belajar pada Tandhimul Jihad ini.

Continue reading “Menelusuri Jejak Hizbut Tahrir di Indonesia”

Pendidikan Tanpa Sekolah; Kritik Rekonstruksi Pembelajaran

Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, maka pedidikan diidentikkan dengan sekolah. Dengan kata lain, pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga tempat mendidik atau mengajar. Jadi, perspektif sempit ini membatasi proses pendidikan berdasarkan waktu atau masa pendidikan, lingkungan pendidikan maupun bentuk pendidikan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Lalu, bagaimanakah tindakan efektif menjadikan manusia sebagaimana mestinya manusia? Apakah dengan adanya sekolah kita bisa mewujudkan hal tersebut.

Sebagaimana sejarah pendidikan, yaitu suatu proses yang dilakukan diwaktu luang. Tapi saat ini pendidikan bukanlah proses yang dilakukan di waktu luang, dalam sejarahnya, pendidikan juga telah menghilangkan aspek pengetahuan holistik. sehingga ilmu pun dipecah-pecah, menjadi mata pelajaran, menjadi SKS, dan lain-lain. Hal ini menghasilkan efek yang menanangkan tuntutan kapitalisme bahwa ilmu harus dipecah-pecah seiring dibutuhkannya tenaga kerja yang terdirensiasi agar baut-baut dan onderdil mesin kapitalisme berjalan.

Continue reading “Pendidikan Tanpa Sekolah; Kritik Rekonstruksi Pembelajaran”