Menyoal Cadar

Banyak spekulasi masyarakat jika melihat seorang wanita (muslimah) yang tampil menggunakan cadar. Ada yang beranggapan orang bercadar adalah orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam. Ada juga yang berpandangan mereka adalah orang yang terlalu berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama atau mempersulit sesuatu yang telah dimudahkan oleh Islam. Bahkan, ada juga yang berpendapat bahwa wanita bercadar adalah kelompok ekstremis yang memiliki pandangan Islam radikal.

Kehebohan yang terjadi di media sosial beberapa hari yang lalu di mana viral sebuah foto siswi dalam satu ruang kelas memakai cadar. Kehebohan foto tersebut tidak hanya viral di media sosial, melainkan beberapa media massa ternama juga turut meliput kehebohan foto tersebut. Foto viralnya menuai spekulasi bahwa sekolah itu mengajarkan radikalisme dan kekerasan sehingga Kemendikbud turun langsung meminta klarifikasi kepada sekolah terkait.

Klarifikasi yang didapatkan, pihak sekolah membantah tudingan jika sekolahnya mengajarkan paham-paham radikalisme. Dalam klarifikasinya, masyarakat diminta untuk tidak keliru memahami bahwa seorang yang bercadar itu adalah kalangan yang berpaham radikal. Cadar tidak selalu identik dengan radikalisme. Dan saya pribadi pun sepakat dengan hal itu.

Sekali lagi, tolong dicatat, saya setuju bercadar memang tidak identik dengan radikalisme. Banyak kalangan wanita yang bercadar tetapi tidak mengikuti pandangan radikal serta pro-kekerasan. Namun, cadar lebih identik dengan ketertutupan, konservatisme, dan ke-Arab-an. Lihat saja negara-negara yang mempraktikkan cadar. Misalnya, Saudi atau dulu Taliban. Semuanya adalah negara-negara yang konservatif dan sangat tertutup.

Saya pikir bercadar atau bahkan berpenampilan pakaian ‘transparan’ sah-sah saja. Setiap orang harus memiliki kebebasan berekspresi sesuai dengan sosial-budayanya masing-masing. Sebaliknya, kebebasan berekspresi berdampak pada tergerusnya hak dasar orang lain. Sementara bercadar sebagaimana berpakaian transparan tidak lantas merampas hak dasar orang lain. Maka dalam konteks ini, sah-sah saja seseorang bercadar ataupun tidak.

Sedangkan dalam konteks beragama (fiqh) persoalan cadar (niqab) sampai saat ini masih menjadi perselisihan pendapat ulama. Misal, dari kalangan Hanafi yang berpendapat bahwa wanita dilarang membuka wajahnya antara laki-laki. Bukan karena wajah itu termasuk aurat, namun lebih kepada untuk menghindari fitnah. Berbeda dengan Maliki yang berpendapat bahwa  makruh hukumnya wanita menutupi wajah, baik ketika dalam shalat maupun diluar sholat. Karena hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan.

Persoalan cadar memang sejak dahulu menjadi masalah yang masih diperselisihkan di kalangan pakar fiqh. Ada yang mewajibkan, membolehkan, bahkan memakruhkan. Hemat saya, bila pendapat yang mengatakan wajib memakai cadar bagi wanita jika dipaksakan untuk diterapkan di Indonesia, maka akan mengalami banyak kendala, bahkan memicu persoalan. Sebagai bangsa Indonesia, seharusnya memiliki karakter kepribadian yang mencerminkan kekayaan lokalitas bangsa ini. Hal ini bisa terwujud jika ada dialektika yang terbuka antara nilai-nilai lokalitas dan agama atau terjadi apa yang disebut Gus Dur sebagai pribumiasasi Islam.