/ September 25, 2016

Malam ini, berawal dari obrolan saya bersama teman se-pondok dulu, sambil menyesap nikmatnya kopi dan rokok, kami saling berkomentar panasnya politik di Ibu Kota saat ini. Di sebuah tempat ngopi, saya melihat muda-mudi berkelompok tengah asik menikmati obrolan mereka.

Di sebelah kanan saya, ada tiga mbak-mbak bercakap-cakap. Obrolan mereka sangat terdengar jelas. Lumayan berisik. Awalnya terdengar obrolan seputar tugas kuliah yang njlimet sampai menjelek-jelekkan dosen mereka sendiri. Di sela-sela obrolannya, salah satu mbak yang suaranya cempreng seolah membuyarkan topik pembicaraan mereka, Ia melontarkan komentar secara sinis, “Si anuh itu ngapain sih berhijab. Sok syar’i pula. Hijabnya itu loh, hampir menyentuh kaki, susut sampe sepunggung. Ga bikin ribet apa…” Seketika komentar itu langsung direspon secara relfek oleh dua teman lainnya.

Berulang kali saya hisap rokok, sesekali menyesap kopi di depan saya. Sambil memperbaiki posisi duduk agar lebih nyaman, saya kembali fokus bersama obrolan teman saya. Beberapa saat kemudian kami memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Hingga sampai di rumah, percakapan ketiga mbak-mbak tadi masih belum terlupakan. Saya merasa sangat resah mengingat percakapan tadi.

Awalnya, saya pun berpikiran sama. Bagi saya, berhijab bukan hanya sebatas “kewajiban”. Berhijab itu “hidayah”. Tak semua orang terketuk hatinya untuk berhijab, karena tak banyak orang yang bisa mendapatkan hidayah. Ketika hati itu terketuk, tentu ia akan menjaga sikap atau perilakunya. Berbeda jika hijab hanya semata mengikuti tren fasion saja. Sedih rasanya menjadi perempuan di era hijab fashionistas.

Berbicara syar’i, saya termasuk orang yang paling “eneg” dengan istilah syar’i. Adanya istilah syar’i ini seolah mendikotomi; ada yang syar’i dan yang tidak syar’i. Sudah, cukuplah menutup aurat saja. Tetapi kemudian saya berpikir lagi, memakai pakaian minim dianggap lebih hina dari hewan, sementara menutup aurat kerap mendapat nyinyir. Sedih rasanya menjadi perempuan di negeri ini.

Soal jilbab ini, saya teringat sosok Emha Ainun Nadjib yang terlibat aktif memperjuangkan hak para perkerja toko yang dilarang majikannya untuk menggunakan jilbab di Jogja. Waktu itu, jilbab tidaklah sepopuler saat ini yang lebih cendrung ke arah industri daripada simbol keimanan. Juga, tak ada girlband hijabers komunitas hijabers yang giat melakukan sosialisasi tutorial hijab kekinian. Perjuangnya mendapatkan efek positif. Pekerja perempuan pertokoan di Jogja akhirnya mendapatkan haknya untuk berjilbab.

Alasan Cak Nun –sapaan akrab Emha Ainun Nadjib– memperjuangkan pekerja perempuan berjilbab bukan semata karena ia seorang muslim dan ingin melihat perempuan dapat beragama Islam secara “kaffah“. Ia menganggap perempuan semestinya bebas menentukan apa yang ingin dia kenakan untuk tubuhnya. Maka secara moral, Cak Nun merasa wajib memperjuangkan hak perempuan agar dapat mengenakan jilbabnya. Perjuangan Cak Nun ini menjadi salah satu pedoman saya dalam kebebasan berpakaian.

Saya pun sangat takdzim ketika melihat para perempuan berhijab, termasuk di kelas kampus. Tanpa bermaksud merampas kebebasan berpakaian, bukankah lebih baik perempuan mengenakan hijab daripada memaksakan diri memakai kaos ketat untuk mendapatkan rasa “aman”?

Jadi, bagi Anda yang suka nyinyir perempuan berhijab, ya biarlah mereka bebas menentukan pakaian untuk tubuhnya. Dan bagi Anda, mbak berhijab, istiqomah-lah dengan hijabmu. Jika besok bersua di kelas, bolehkah saya ber-ta’aruf, mbak.

Kebetulan, saya masih mencari pendamping untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Lamongan Pamekasan.