/ May 29, 2017

Akhir-akhir ini, isu komunisme menjadi pembicaraan yang paling aktual di Indonesia. Patut diakui isu ini telah merasuk pada ranah konstelasi perpolitikan di Indonesia. Terbukti isu ini semakin mencuat sejak awal sampai pada akhir pelaksanaan pemilihan kepada daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Seolah isu ini menjadi media propaganda dalam rangka kepentingan politik tertentu.

Isu komunisme mencuat dari sejumlah media sosial, beredar postingan-postingan yang mengisyaratkan kebangkitan komunisme di negeri ini. Isu komunisme juga dikaitkan dengan masuknya para pekerja dari cina. Meski Menteri Ketenagakerjaan kerap menepis dugaan masuknya pekerja asing ke Indonesia, tetapi isu komunisme semakin mencuat tak terbendung.  Selain itu, beberapa tokoh negeri ini yang tidak saya ragukan kredibilatasnya kerap menegaskan bahwa komunisme hanyalah “hantu ilusi” yang tak jelas pastinya.

Patut diakui juga, bahwa isu komunisme ini sangat sensitif sehingga rawan untuk dijadikan media propaganda dalam rangka kepentingan politik karena isu ini menyangkut luka historis negeri ini. Maka dari itu, terlepas dari isu propaganda komunisme, pemerintah patut memperhatikan dan menetralisir isu ini, sehingga tidak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat awam.

Lalu, pertanyaannya adalah apakah benar adanya isu yang paling berbahaya saat ini adalah bangkitnya komunisme di negeri ini? Bukankah ada satu isu yang sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada isu komunisme, yaitu berkembangnya radikalisme agama di negeri ini? Saya justru berpikir isu komunisme secara sengaja digiring untuk menutup isu lain,  yang jauh lebih berbahaya dan urgen dari komunisme.

Tanpa bermaksud meremehkan isu kebangkitan komunisme, hemat saya komunisme yang didengungkan oleh kalangan tertentu sudah lama mati dan sangat kecil kemungkinannya untuk bangkit kembali. Sampai kapan pun paham komunis tidak akan pernah diterima kembali di negeri ini. Sudah jelas.

Kondisi ini bukan hanya sekedar gerakan fundamentalisme agama, tetapi lebih kepada radikalsme agama. Fundamentalisme agama adalah upaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar paham fundamentalis. Tentunya hal ini tidak terlalu berbahaya. Berbeda dengan radikalisme, mereka berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar dengan menggunakan cara kekerasan.

Menjamurnya radikalisme di Indonesia patut diperhatikan. Sebab, paham ini sangat membahayakan keutuhan NKRI. Radikalisme bersembunyi di balik “jubah” agama sehingga sulit teridentifikasi. Para radikalis bisa merusak ketenangan sekitar atas nama Tuhan dan agama. Padahal, segala bentuk kekerasan jelas bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Perlahan masalah ini telah dinetralisir oleh pemerintah. Terbukti melalui pembubaran salah satu ormas yang berideologi radikalis yang terjadi akhir-akhir ini. Meski pembubaran tersbut tidak dapat menyelasikan masalah ini secara tuntas, namun usaha ini perlu diapresiasi.

Selain itu, upaya mencegah berkembangnya radikalisme di Indonesia, perlu adanya pengutan kepada generasi muda khususnya bahwa ideologi berbangsa dan bernegara di Indonesia telah final. Tidak perlu ada perdebatan lagi tentang ideologi bangsa ini, yaitu berideologi pancasila. Bila pancasila diimplementasikan dengan baik dan benar, maka akan benar-benar menjadi solusi komprehensif menyelesaikan ancaman radikalisme. Karena di dalamnya, terdapat – salah satunya – nilai ketuhanan yang dapat menuntut kita bertolenransi dalam kehidupan beragama dan toloransi kepada umat agama lain.