Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber utama ajaran Islam yang diwariskan oleh Rasulullah saw. sehingga barang siapa yang menjadikam keduanya sebagai pedoman. Maka ia telah berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni sekaligus ia selamat dari kesesatan. Dalam rangka “pemurnian” ajaran Islam, maka diperlukan suatu ketegasan yang tak bisa ditawar lagi bahwa al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan utama dalam Islam.

Pemurnian sumber Islam ini kerap menjadi propaganda oleh beberapa kalangan. Dengan jargonnya, kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kali ini, jargon kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah perlu kiranya diapresiasi. Tentu, suatu hal yang kurang pantas bila ada beberapa kalangan lain yang tidak mengapresiasi jargon untuk menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupannya.

Karena hal itu sesuai dengan pesan Rosul. Pesannya kurang lebih berbunya; “aku wariskam kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat jika dengan teguh kamu berpegang teguh terhadap keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku”.

Pesan tersebut bersifat “umum”, tidak hanya ditujukan secara spesifik kepada siapa. Artinya, pesan ini ditujukan kepada seluruh pengikut Rosul atau umat Islam secara umum dan tidak tertuju kepada golongan tertentu. Lalu, pertanyaannya mungkinkah umat Islam secara umum mampu selalu berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dalam menjalani kehidupannya?

Pertanyaan tersebut perlu diajukan karena mengingat petunjuk-petunjuk dalam al-Qur’an dan Sunnah “tidak selalu siap pakai”. Banyak teks-teks dari dua sember teks ini yang masih memerlukan penafsiran dan penjabaran yang hanya bisa dilakukan oleh seorang yang memiliki kompetensi dalam bidang tertentu, melalui bantuan beberapa disiplin keilmuan.

Sebenarnya, pertanyaan tersebut telah ada jawabannya di dalam al-Qur’an itu sendiri. Yaitu, “bertanyalah kepada yang memiliki pengetahuan jika kamu sendiri tidak tahu.” Maksud potonga ayat tersebut adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan adalah para ulama dari sahabat, tabi’in, tabi’’it tabi’in, para imam madzhab dan seterusnya.

Penafsiran dan penjabaran al-Qur’an dan Sunnah mereka (para ulama) telah menuangkan ke dalam kitab-kitab yang berjumlah ratusan ribu kitab, bahkan mungkin jutaan. Maka, bermadzhab kepada salah satu dari para imam madzhab yang diyakini keilmuannya tidak menyimpang dari apa yang disebut “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”.