Jiwa yang Tenang Terdapat pada Perokok

Dalam prespektif modern, kosmologi “keselamatan” kerap identik dengan “fisik”. Misal, seorang yang mengendari kendaraan dan sampai pada tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Seorang yang fisiknya sehat, baik, dan terlindungi disebut selamat. Sebaliknya, seorang yang fisiknya sakit, buruk, dan terkena gangguan, berarti disebut tidak selamat.

Ketika kosmologi keselamatan ini menjadi standar prespektif modern, maka keselamatan hanya dapat diukur dari sesuatu yang sifatnya lebih pada fisik. Buktinya, Departemen Kesehatan yang hanya sibuk dengan urusan kesehatan jasmani saja. Mereka tidak pernah menempatkan kesehatan jiwa (rohani) dalam proporsi strategis.

Jika lebih cermat kembali, persoalan bangsa ini bukanlah masalah akibat fisik saja, persoalan bangsa ini lebih dominan pada masalah yang ditimbulkan dari ketidak-sehatan jiwa. Penyakit fisik hanya secuil dari persoalan akibat penyakit jiwa. Penangan penyakit jiwa yang semestinya mendapatkan proporsi khusus dalam sektor Departemen Kesehatan justru nyaris dianggap tidak ada. Maka tak perlu heran, ketika pada ahli kesehatan hanya melihat persoalan rokok dari prespektif kesehatan fisik.

Memandang masalah rokok hanya dari sudut pandang kesehatan fisik menunjukkan cara berpikir yang terlalu linier dan membaca persoalan secara serta merta, hanya dilihat pada permukaan saja. Cara berpikir linier seperti inilah yang akan berdampak pada sakitnya jiwa.

Baiklah, pertama saya sepakat bahwa merokok secara kesehatan fisik (medis) memang berbahaya. Toh, meskipun argumentasi ini mudah dipatahkan. Karena fokus tulisan ini lebih pada dampak rokok terhadap kesehatan jiwa.

Dalam praktiknya, merokok tidak bisa lakukan dengan tergesa-gesa. Merokok adalah aktifitas yang istimewa. Tidak seperti aktifitas-aktifitas lainnya, seperti makan, minum, mandi, berkendara, bahkan bekerja dapat dilakukan dengan cepat dan tergesa. Tetapi merokok harus dilakukan secara perlahan dan rileks. Merokok sama halnya gerakan-gerakan dalam sholat. Merokok dalam sholat lebih tepatnya disebut tuma’ninah. Hisap, tenang, pengendapan sesaat, lalu keluarkan asap. Hisap lagi, tenang, pengendapan lagi, lalu keluarkan asap lagi. Begitu seterunya. Jadi, merokok bukanlah aktifitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan tergesa-gesa.

Untuk menghabiskan satu batag rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau setiap hari bisa merokok sampai 10 batang saja, berarti minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per-harinya. Sekali lagi, 200 kali setiap hari. Jika perokok menempuh hidup selama belasan tahun atau bahkan puluhan tahun, apakah hal itu tidak turut mambangun bangunan bawah sadarnya sehingga dapat membentuk karakter pribadinya.

Maka tak perlu heran jika banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Mereka bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Perokok itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, dan yang terpenting mereka memiliki daya imajinasi tinggi. Mereka misalnya, Albert Einsten, Jecques Derrida, Sigmund Freud, mereka menemukan teori-teorinya dengan tuma’ninah-nya melalui rokok. Ada Soekarno, atau para sastrawan seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, mereka juga menjalani metode yang sama, tuma’ninah lewat rokok.