Gara-gara Bu Dany!

Siang tadi, saya mengikuti kuliah metode penelitian kuantitatif yang diampu oleh Dr. Dany M. Handarini, M.A. Dalam kuliahnya, Bu Dany –sapaan akrabnya– memaparkan teknik dalam melakukan penelitian kuantitatif secara khusus. Selain pemaparan tentang materi kuliahannya, ada satu hal yang menarik pada kulihan siang tadi, yaitu tentang produktifitas menulis mahasiswa. Gara-gara kuliah beliau, saya jadi teringat ketika pertama kali saya mengenal dunia tulis-menulis.

Pertama kali saya berkenalan dengan dunia tulis-menulis sebenarnya sudah saya lakukan sejak SMP. Waktu itu Bapak saya lah yang mengajarkan langsung kepada saya. Saya mulai menulis dari hal-hal kecil. Selaras yang disampaikan Bu Dany, menulis itu berawal dari “kegalauan”. Ide yang kita tuangkan dalam tulisan itu kerap kali muncul dari sebuah kegalauan. Kegalauan dalam realitas sehari-hari kita. Begitulah formulasi yang saya lakukan untuk memudahkan saya dalam menulis.

Kemudian saya mempertajam lagi kemampuan menulis saya ketika saya belajar di bangku Aliyah (SMA). Tepatnya pada kelas dua Aliyah saya fokus untuk mendalami dunia kepenulisan. Pada awalnya saya tak pernah terlibat dalam komunitas kepenulisan apapun. Saya hanya menjadi konsumen karya-karya orang lain, baik di majalah maupun buletin sekolah dan pesantren. Kejenuhan saya yang hanya menjadi sebatas konsumen merangsang saya untuk turut berkontribusi di dalamnya. Satu-dua kali tulisan saya dimuat di buletin pesantren. Dari sinilah saya mulai produktif dalam dunia kepenulisan.

Menulis kecil-kecilan di media sekolah dan pesantren memotivasi saya untuk meningkatkan kualitas karya tulis saya. Teman dan senior saya pun menyarankan untuk menulis dan mengirimkan tulisan saya ke koran lokal kala itu. Bahkan, saya mendapat tantangan tersendiri dari Bapak saya untuk menulis di koran. Jika tulisan saya berhasil dimuat, saya akan menerima reward berupa laptop dari Bapak saya. (Baca postingan laptop jadul)

Kondisi dan alasan itulah yang menyebabkan saya menulis di koran. Pada saat itulah saya mencoba mengirimkan tulisan-tulisan saya ke koran. Menulis di koran ternyata tak semudah yang dibayangkan, satu-dua kali artikel saya ditolak. Sempat pesimis karena tak sesuai ekspektasi. Lalu, saya mencoba lagi untuk yang ketiga kalinya, dan artikel saya dimuat. Senang dan terharu saat memegang koran itu. Maklumlah baru pertama kali tulisan saya dimuat.

Artikel pertama saya yang dimuat di koran waktu itu tentang profesionalisme guru dan pembaharuan metode pembalajaran di kelas. Dimuatnya tulisan saya menumbuhkan rasa percaya diri saya bahwa tulisan saya bisa dimuat di koran. Selanjutnya, tak jarang artikel saya mengisi kolom opini koran-koran lokal, baik pemerintah maupun non-pemerintahan, sampai pada akhir kelas tiga Aliyah saya mulai berkonsentrasi pada bidang lain.

Belakangan ini, empat tahun terakhir, saya hampir sama sekali tidak menulis di media massa apapun. Walaupun begitu, saya berusaha untuk selalu bisa menyempatkan diri menulis di blog ini, toh meski tidak telalu konsisten mengisinya. Setidaknya keterampilan menulis saya tetap terasah. Selama rentang empat tahun itu, setidaknya saya sudah menulis sekitar 112-an karya tulis yang telah terarpsipkan dalam drive folder karya tulis saya (termasuk dalam blog ini).