Flash Blogging: Meramu Fiqh Media Sosial

Pagi ini, saya bersama sekitar 55 blogger Malang berada dalam satu ruangan di Hotel Aria, Malang. Hari ini, saya mengikuti acara flash blogging yang dikemas dengan format talkshow bersama Emak Blogger, Mira Sahid dengan mengangkat tema “menuju indonesia maju”. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Tim Komunikasi Presiden sebagai pembicara terkait perkembangan dan progresifitas kinerja pemerintahan Presiden Jokowi.

Secara sederhana, acara flash blogging ini dapat dipahami sebagai acara nge-blog ditempat. Menulis di blog masing-masing peserta dengan durasi waktu 1 jam. Karena itu, masing-masing peserta diharapkan menulis (mereview) hal-hal apa yang diperoleh selama acara ini.

Satu hal yang menjadi perhatian saya selama pelaksanaan acara, baik dari pembicara, narasumber, bahkan penanya (peserta) pada acara ini. Hal tersebut mengarah pada topik diskusi tentang ujaran kebencian, SARA, dan hoax.

Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan, kemajuan teknologi khususnya media sosial menjadi sebuah fenomena yang kerap dibicarakan pada forum-forum formal maupun non-formal. Seolah fenomena ini menjadi persoalan yang cukup krusial di Indonesia saat ini. Keberadaan media sosial merobek sekat-sekat sosial-budaya dan geografis dengan sangat bebas.

Hal itu dipertegas oleh peryataan Emak Blogger dalam paparan materinya, “dunia maya (media sosial) adalah dunia tanpa batas, dunia tanpa sekat, dan dunia kebebasan”. Namun, kebebasan itu kerap kali tidak dibarengi dengan integritas, ketelitian, dan akurasi yang tepat sehingga berdampak pada perilaku-perilaku yang menyimpang, tak beretika, dan bermoral yang dapat menciderai kebhinekaan dan persatuan bangsa ini.

Diakui atau tidak, dampak tersebut merupakan konsekuensi kebabasan bermedia sosial itu sendiri. Namun, sebagai masyarakat Indonesia yang senantiasa berpegang teguh pada agama, kebebasan yang disuguhi tersebut akan merongrong prinsip beragama, berbangsa, dan bernegara yang bertentangan dengan nilai-nilai pancasila sebagai pemersatu bangsa.

Karena itu, perlu kiranya dilakukan upaya pendekatan dengan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam bermedia sosial. Pendekatan keagamaan telah banyam dilakukan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pelik bangsa ini. Pendekatan agama disini dirumuskan dalam kaidah-kaidah fiqh. Maka tidak asing lagi ditemui istilah-istilah kekinian yang menjadi pembahasan dalam rumusan fiqh. Misalnya, fiqh anti-korupsi, organisasi, anak-anak, dan masih banyak lagi. Rasa-rasanya pendekatan ini dinilai efektif menyelesaikan persoalan tersebut.

Upaya mengatur kehidupan bermedia sosial, maka rumusan “fiqh media sosial” dianggap sangat relevan untuk dilakukan ijtihad. Melalui fiqh media sosial ini diharapkan dapat dijadikan sumber pengarahan tingkah laku yang harus dijadikan pedoman hidup. Fiqh media sosial ini nantinya berisikan nilai, prinsip, dan kaidah tentang bagaimana seharusnya memanfaatkan dan menggunakan media sosial.

Sebagai contoh yang dapat dirumuskan dalam fiqh media sosial adalah sebagaimana yang dikutip oleh Emak Blogger pada paparannya mengurip surah Al-Hujarah ayat 6. Secara eksplisit ayat tersebut menunt untuk melalukan tabayun (klarifikasi) dalam bermedia sosial. Klarifikasi tersebut diharapkan dapat bermedia sosial yang berintegritas, teliti, dan akurat.

Rumusan fiqh media sosial ini hanya tawaran untuk mewacanakan pentingnya pedoman dalam menjalani fenomena kehidupan bermedia sosial.