/ May 27, 2017

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Begitulah kira-kira potongan redaksi hadist yang menjelaskan tentang tidur di bulan puasa. Tentu, hadist ini memberi pemahaman bahwa aktifitas tidur adalah ibadah. Sekaligus hadist ini memperkuat bahwa aktifitas tidur yang dilakukan adalah anjuran Rasulullah saw.

Jika tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, lalu mengapa kita tidak tidur saja sepanjang hari. Sejak sahur setelah subuh, sampai menjelang sore sebelum maghrib. Saya kira metode ini cukup efektif sekali. Efektif untuk tidak merasakan kecapekan, kehausan, dan kelaparan pada sepanjang hari.

Pemahaman terhadap hadist ini menyimpang, salah kaprah. Sehingga mereka berasumsi terhadap apa yang dilakukannya dengan senang hati dan memperpanjang tidurnya dengan harapan dapat dicatat sebagai amal shalih yang sangat “remeh-mudah” dilakukan.

Sebelum menjelaskan maknanya, perlu kiranya saya paparkan bahwa status hadist ini. Hadist ini adalah lemah (dha’if). Hampir kebanyakan ulama bersepakat bahwa hadist ini lemah, diantaranya Syaikh Albani dan Imam Abdurrahman.

Terlepas dari status hadist itu, pemahaman terhadap hadist ini yaitu, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, tidur karena untuk mengistrihatkan tubuh agar kuat dalam beribadah. Bukan justru sebaliknya, tidur sepanjang hari sehingga tidak melaksanaklan kewajiban (ibadah) lainnya. Merugi jika bulan puasa hanya digunakan untuk tidur saja. Bulan puasa, bukanlah bulan untuk tidur semata.