/ December 15, 2016

Fanatisme dalam beragama cendrung berpikir harus “mengagamakan” semua hal, misal dari pakaian, bahasa, sampai dalam hal ritual. Kecendrungannya berdasarkan penafsiran sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan beragama. Lalu, mereka mendefinisikan agama sebagaimana yang diyakininya. Hal-hal yang diyakini baik akan dinisbahkan untuk mendukung pemahamannya. Seolah mereka lupa bahwa agama tidak tergantung pada anggapan manusia.

Terlalu merasa paling benar dalam beragama merupakan gejala fanatisme. Anggapan berlebihan (fanatisme) kepada hal yang diyakininya dalam prespektif anak gaul disebut dengan istilah “baper” atau dengan kata lain “bawa perasaan”. Ya, baper dalam beragama. Sedikit-dikit mengatakan orang lain yang tak sepaham haram, bid’ah, kafir, dan lainnya.

Dalam kamus gaul, baper adalah dimana keadaan seseorang menanggapi sesuatu secara berlebihan, sehingga akan berdampak pada hal yang terlalu serius, sensitif, dan tenggelam dalam kenangan mantan yang ditinggal nikah perasaan hingga kehilangan sebagian daya nalar dan kritisnya.

Baper dalam konteks beragama, seorang akan berlebihan dalam menanggapi suatu persoalan syariat maupun aqidah (agama). Contoh konkritnya, ketika Ahok secara terang-terangan melontarkan surah Al-Maidah: 51 dalam orasi dinasnya. Fanatisme agamis secara reflek mempolitisasi merasa beper menanggapi pernyataan Ahok. Ke-baperan-nya  berujung pada kasus penistaan agama dalam ranah hukum.

Satu contoh lagi dampak baper dalam beragama yang baru seminggu ini terjadi, yaitu kasus Syar’i Roti Sari Roti. Setelah pihak perusahaan Sari Roti mengeluarakan pernyataan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam aksi Bela Islam Wiro Sableng 212 kemarin. Lagi-lagi, fanatisme agamis baper menanggapi pernyataan tersebut. Tak tanggung-tanggung, mereka juga memboikot produk dari perusahaan tersebut. Haram. Kok yang enak-enak itu selalu diharamkan, ya.

Kali ini, saya akan memberikan sebuah tawaran solusi terkait dengan maraknya baper (fanatisme) dalam beragama, yang inspirasinya berasal dari tradisi sufisme, yaitu tradisi ngopi. Kopi bisa menjadi obat bagi orang-orang yang baper dalam beragama. Kenapa bukan tradisi sufi lainnya, seperti berdzikir, sholat malam, dan sebagainya. Kopi adalah hal yang sangat istimewa dikalangan sufi. Keduanya tak dapat dipisahkan. Sampai ada ungkapan, “Sufi iku kudu ngopi!”

Kopi itu identik dengan rasanya yang pahit. Tetapi kopi dengan tambahan pemanis bukan berarti tidak disebut kopi. Jika selera kopi saya pahit, bukan lantas merasa kopi pahit saya yang sebenar-benarnya kopi, dan menyalahkan selera kopi manis orang lain. Karena kopi adalah soal rasa, tak bisa dipaksakan. Dan rasa itu tak perlu berlebihan untuk hal-hal yang memang telah dikodratkan.

Begitu pula dalam beragama, tak perlu baper, merasa dirinya paling benar, merasa paling ini atau itu. Yakinilah sesuai dengan keyakinan masing-masing, tak perlu memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Jika Anda baper, maka ngopilah.