71 Tahun RI, Taklukkan Gebetan dan Merdekalah!

Hari ini, 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali merayakan hari kemerdekaannya. Euforia kemerdekaan disenandungkan oleh berbagai macam lapisan masyarakat, tak terkecuali saya yang jomblo sekalipun. Melalui Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 yang berbunyi, “Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

Sejak dibacakannya teks Undang-undang Dasar itu segala bentuk penjajahan dan diskriminasi terhadap siapapun harus segera dihentikan, termasuk diskriminasi kepada kaum jomblo yang dianggap menduduki kasta terendah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Meski kaum jomblo sering kali mendapat perlakuan diskriminatif, membuat mereka semakin terkucilkan dan sepi.

Kemerdekaan adalah suatu kondisi yang seutuhnya “bebas”. Bebas untuk memilih dan menentukan impian, cita-cita, dan tujuan hidupnya. Dan yang lebih utama, mereka bebas untuk tidak mendapatkan perlakuan diskriminasi dan dikucilkan. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya, baik dalam konteks kemerdekaan kebangsaan Indonesia maupun kebangsaan jomblo dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak diperoleh dengan usaha dan perjuangan yang mudah dan murah. Bangsa Indonesia harus menelan 350 tahun penajajahan, penindasan yang mendatangkan ketakukan, kekhawatiran, keterpaksaan, dan penderitaan. Kemerdekaan yang didapatkan bangsa ini tak semudah seperti halnya berkoar-koar menegakkan khilafah di negeri ini mencari topik untuk selalu bisa chat dengan gebetan.

Kaum jomblo seharusnya bisa belajar dari sejarah merdekanya bangsa Indonesia ini. Penolakan, pengabaian, dan bahkan pemanfaatan adalah hal yang harus dirasakan oleh saya mereka. Ya, itu suatu yang biasa. Dibutuhkan usaha dan perjuangan yang maksimal agar jomblo mampu survive.

Banyak macam usaha yang bisa dilakukan untuk bisa menaklukkan gebetan. Jika kita mau menilik pada prespektif psikologis, wanita dikenal dengan makhluk auditif. Maka, benar adanya pepatah lama mengatakan, kelemaham lelaki ada pada mata, kelemaham wanita ada pada telinga.

Lelaki memang dikenal sebagai makhluk visual. Mereka lebih mudah terpikat pada sesuatu yang memukai secara fisik. Maka tak heran jika ada istilah lelaki mata keranjang. Sebaliknya, tak ada wanita mata keranjang. Karena memang wanita bukanlah makhluk visual. Wanita sering kali tertarik pada lelaki yang mahir memainkan kata (auditif). Itu kenapa para pujangga, penyair hingga penulis lagu nyaris tak pernah gagal mendapatkan wanita. Ya, karena meraka mahir menyusun kata-kata yang bisa membuat hati wanita meleleh. Lihatlah Bung Karno yang memiliki banyak istri. Tak perlu heran jika beliau memiliki banyak istri, karena beliau mampu memikat istri-istrinya dengan kata-kata indah nan-makjleb.

Salain cara itu masih ada banyak cara lain yang bisa digunakan oleh kaum jomblo untuk bisa membuat jantung gebetan copot dengan muka berbinar. Tetapi yang terpenting adalah keikhlasan, ketabahan dan semangat juang menerima perlakuan gebetan. Entah ditolak, diabaikan, dan lain-lainnya.

Bertepatan pada momentum HUT RI ke-71, maka kaum jomblo perlu memproklamasikan eksistensinya agar selalu diberikan kekuatan dalam rangka memperjuangkan nasibnya demi masa depan yang cerah. Merdeka.

“Kami bangsa Jomblo dengan ini menyatakan kemerdekaan Republik Jomblo. Hal-hal mengenai pencarian target dan lain-lain akan diselenggarakan dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”