Jiwa yang Tenang Terdapat pada Perokok

Dalam prespektif modern, kosmologi “keselamatan” kerap identik dengan “fisik”. Misal, seorang yang mengendari kendaraan dan sampai pada tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Seorang yang fisiknya sehat, baik, dan terlindungi disebut selamat. Sebaliknya, seorang yang fisiknya sakit, buruk, dan terkena gangguan, berarti disebut tidak selamat.

Ketika kosmologi keselamatan ini menjadi standar prespektif modern, maka keselamatan hanya dapat diukur dari sesuatu yang sifatnya lebih pada fisik. Buktinya, Departemen Kesehatan yang hanya sibuk dengan urusan kesehatan jasmani saja. Mereka tidak pernah menempatkan kesehatan jiwa (rohani) dalam proporsi strategis.

Continue reading “Jiwa yang Tenang Terdapat pada Perokok”

Baper Iku Kudu Ngopi!

Fanatisme dalam beragama cendrung berpikir harus “mengagamakan” semua hal, misal dari pakaian, bahasa, sampai dalam hal ritual. Kecendrungannya berdasarkan penafsiran sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan beragama. Lalu, mereka mendefinisikan agama sebagaimana yang diyakininya. Hal-hal yang diyakini baik akan dinisbahkan untuk mendukung pemahamannya. Seolah mereka lupa bahwa agama tidak tergantung pada anggapan manusia.

Terlalu merasa paling benar dalam beragama merupakan gejala fanatisme. Anggapan berlebihan (fanatisme) kepada hal yang diyakininya dalam prespektif anak gaul disebut dengan istilah “baper” atau dengan kata lain “bawa perasaan”. Ya, baper dalam beragama. Sedikit-dikit mengatakan orang lain yang tak sepaham haram, bid’ah, kafir, dan lainnya.

Continue reading “Baper Iku Kudu Ngopi!”