Mbak Hijaber, Bolehkah saya berta’aruf

Malam ini, berawal dari obrolan saya bersama teman se-pondok dulu, sambil menyesap nikmatnya kopi dan rokok, kami saling berkomentar panasnya politik di Ibu Kota saat ini. Di sebuah tempat ngopi, saya melihat muda-mudi berkelompok tengah asik menikmati obrolan mereka.

Di sebelah kanan saya, ada tiga mbak-mbak bercakap-cakap. Obrolan mereka sangat terdengar jelas. Lumayan berisik. Awalnya terdengar obrolan seputar tugas kuliah yang njlimet sampai menjelek-jelekkan dosen mereka sendiri. Di sela-sela obrolannya, salah satu mbak yang suaranya cempreng seolah membuyarkan topik pembicaraan mereka, Ia melontarkan komentar secara sinis, “Si anuh itu ngapain sih berhijab. Sok syar’i pula. Hijabnya itu loh, hampir menyentuh kaki, susut sampe sepunggung. Ga bikin ribet apa…” Seketika komentar itu langsung direspon secara relfek oleh dua teman lainnya.

Continue reading “Mbak Hijaber, Bolehkah saya berta’aruf”

FDS: Menilik Masalah Pendidikan di Indonesia

Sekolah sehari penuh  atau  full day school (FDS) yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy sejauh ini terus menuai diskursus dan perdebatan pro-kontra, meski saat ini Mendikbud telah menarik kebijakan FDS tersebut. Mendikbud pun mengakui bahwa gagasan tersebut hanya bentuk interpretasi dirinya terhadap visi dan misi presiden. Dalam visi dan misi presiden, terdapat instruksi untuk melakukan revolusi karakter anak bangsa (revolusi mental). Menurut Mendikbud, dalam penerapan sistem FDS bertujuan untuk membangun karakter pada anak-anak, sehingga secara perlahan anak tersebut tidak menjadi liar.

Ketegasan Mendikbud menarik kebijakan FDS yang semakin liar patut mendapatkan apresiasi. Disadari atau tidak, gagasan tersebut secara filosofis dan praksis bermasalah dalam tatanan demografi Indonesia. Selain itu, diskursus dan perdebatan FDS banyak menuai respon yang dibumbui oleh persepsi-persepsi miring. Persepsi itu bermacam-macam, seperti perbedaan ideologi, politik, dan kepentingan lain. Tentunya, respon ini jauh dari semangat mencari jalan keluar untuk pendidikan yang lebih baik. Continue reading “FDS: Menilik Masalah Pendidikan di Indonesia”

Gara-gara Bu Dany!

Siang tadi, saya mengikuti kuliah metode penelitian kuantitatif yang diampu oleh Dr. Dany M. Handarini, M.A. Dalam kuliahnya, Bu Dany –sapaan akrabnya– memaparkan teknik dalam melakukan penelitian kuantitatif secara khusus. Selain pemaparan tentang materi kuliahannya, ada satu hal yang menarik pada kulihan siang tadi, yaitu tentang produktifitas menulis mahasiswa. Gara-gara kuliah beliau, saya jadi teringat ketika pertama kali saya mengenal dunia tulis-menulis.

Pertama kali saya berkenalan dengan dunia tulis-menulis sebenarnya sudah saya lakukan sejak SMP. Waktu itu Bapak saya lah yang mengajarkan langsung kepada saya. Saya mulai menulis dari hal-hal kecil. Selaras yang disampaikan Bu Dany, menulis itu berawal dari “kegalauan”. Ide yang kita tuangkan dalam tulisan itu kerap kali muncul dari sebuah kegalauan. Kegalauan dalam realitas sehari-hari kita. Begitulah formulasi yang saya lakukan untuk memudahkan saya dalam menulis.

Continue reading “Gara-gara Bu Dany!”