Catatan Akhir PPL

Hari ini secara resmi saya selesai menjadi guru praktik. Entah saya harus senang atau sedih. Saya merasa senang karena saya bisa menyelesaikan praktik mengajar ini. Saya merasa sedih karena saya harus dihadapkan dengan perpisahan. Bukan lantas saya menyesal dengan perpisahan ini, karena perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi perpisahan adalah awal dari pertemuan selanjutnya. Karenanya, jika saya menyesali perpisahan sama artinya dengan saya menyesali pertemuan.

SMA 1 Pamekasan menjadi potongan memori dari kisah saya yang tak terlupakan. Saya akui mengajar siswa-siswi di SMA ini sangat menyenangkan. Apalagi ketika terkenang sebuah kelas yang begitu ramah menyambut saya dengan baik. Meski saya bukan guru mereka yang sebenarnya, tetapi mereka sangat kooperatif dan memberikan apresiasi yang luar biasa, XI.I. Continue reading “Catatan Akhir PPL”

Jenuh Itu Wajar

Postingan kali ini berawal dari pertanyaan salah seorang siswa yang saya dapatkan ketika mengisi layanan klasikal di SMA Negeri 1 Pamekasan, sekolah yang menjadi tempat PPL (praktik pengalaman lapangan) saya kemarin. Pertanyaan itu diajukan ketika sesi akhir pembelajaran di kelas, sehingga saya hanya menjawabnya secara ringkas. Kebetulan saya mendapatkan jatah mengisi layanan di kelas ini pada jam pelajaran terakhir. Wajar saja, karena pada waktu itu saya sudah merasa kelelahan setelah sehari beraktifitas dengan padatnya tugas.

Khawatir jawaban yang saya sampaikan tidak memuaskan, maka saya memutuskan untuk menulis masalah tersebut dalam tulisan ini sebagai pengembangannya. Pertanyaannya adalah “bagaimana seharusnya seseorang ketika sampai pada titik jenuh?”

Continue reading “Jenuh Itu Wajar”

#Selfie4Siauw

Tepatnya tanggal 14 Desember 2014, dua bulan yang lalu. Tagar Selfie4Siauw menjadi trending topic dunia di twitter selama beberapa hari. Hal itu dipicu oleh kontroversi fatwa sang Ustadz pentolan Hizbut Tahrir yang mengharamkan foto selfie. Siapa lagi kalau bukan Felix Siauw. Seorang artis dan juru dakwah kaum Khilaf(ah) yang dakwahnya penuh kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia.

Dikatakan penuh kontroversi bukan tanpa alasan yang jelas. Coba kita amati bagaimana dia berdakwah yang sangat mudah mengumbar fatwa-fatwa haram, dosa, musyrik, dan lainnya. Termasuk fatwanya beberapa bulan yang lalu. Menurutnya, selfie adalah perbuatan dosa. Karena perbuatan selfie akan berujung pada sifat takabur, riya’, dan ujub. Bahkan, dia juga menuturkan bahwa yang namanya foto selfie tidak ada manfaatnya dan malah banyak mudharatnya.

Continue reading “#Selfie4Siauw”