Mimpi Menentukan Hidup Kita?

Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak begitu menghiraukan mimpi. Saya menganggap mimpi itu hanya “bunga tidur” saja, tidak lebih. Mimpi bagi saya bukanlah suatu isyarat atau petunjuk dari Tuhan tentang kehidupan kita.

Tentunya bukan tanpa alasan jika saya memiliki pendirian seperti ini. Karena beberapa kali dalam pengalaman hidup saya, banyak mimpi saya yang tadi dengan kenyataan. Suatu hari saya pernah bermimpi jika hari itu saya akan mendapatkan kesenangan, tapi ternyata hari itu biasa-biasa saja, tidak ada satu hal yang ‘wah’. Waktu awal masuk kuliah dulu sempat bermimpi bila perempuan yang saya suka akan menjadi istri saya, nyatanya hubungan kita tidak direstui. Suatu hari saya juga sempat bermimpi jika saya punya mobil pribadi, nyatanya sampai sekarang tidak pernah mendapat keberuntungan seperti itu.

Continue reading “Mimpi Menentukan Hidup Kita?”

Struktur Insan dalam Prespektif Psikologi Sufi (Bagian II)

Banyaknya perbedaan dalam pemberian nama kepada jiwa sedikit membingungkan kita. Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat suatu kesepakatan bahwa jiwa manusia, apakah jiwa ini disebut hati, akal atau ruh bersifat rohani bukan jasmani. Sehingga dengan kesepakatan tersebut tak membuat kita bingung.

Seperti disimpulkan al-Ghazali, jiwa tidaklah bersifat jasmani atau bukan juga aksiden sebagaimana sering dikonsepsikan para psikolog barat, melainkan sebuah subtansi immaterial, bersifat malakuti dan bahkan ilahiyah. Sehingga jiwa tersebut tidak akan hancur pada saat kematian. Jiwa juga bukan “otak” ataupun fungsi neurologis otak, tetapi ia subtansi immaterial yang tidak turut hancur bersama hancurnya otak manusia. Bahkan ia akan terus “survive” setelah kematian untuk memetik hasil kerjanya selama ia berkarir didunia, sebagaimana didoktrinkan oleh agama.

Continue reading “Struktur Insan dalam Prespektif Psikologi Sufi (Bagian II)”

Struktur Insan dalam Perspektif Al-Ghazali (Bagian I)

Konsep jiwa dalam pandangan sufisme begitu kompleks. Mereka begitu intens mendiskripsikan jiwa. Mereka juga membagi jiwa dalam dua hal yang saling berhubungan erat yaitu aspek rohani dan aspek jasmani. Kedua aspek ini telah dijelaskan dalam al-Qur’am dan as-Sunnah. Berbeda dengan konsep jiwa dalam pandangan psikologi barat yang lebih cendrung bersifat jasmani. Nilai-nilai spritualitas dalam pandangan psikologi barat tidak pernah dikemukakan, atau karena mereka lebih cendrung pada yang bersifat jasmani dan menafikan sifat rohani atau spritualitas.

Dalam dunia tasawuf, psikologi dikembangkan bukan hanya untuk tujuan teoritis belaka. Melainkan untuk melakukan transformasi jiwa. Karena bagi sufi transformasi jiwa merupakan hal yang paling urgen dalam suatu disiplin ilmu. Ilmu yang tidak menghasilkan sebuah transformasi jiwa akan dipandang rendah, bagaimanapun sistematisnya ia secara teoritis. J. Rumi pernah mengeritik teologi dan fiqh karena kecendrungannya pada “formalisme”. Ia gagal dalam melakukan transformasi jiwa. Hanya tasawuflah yang akan mampu melakukan transformasi jiwa seseorang.

Continue reading “Struktur Insan dalam Perspektif Al-Ghazali (Bagian I)”