Politik Itu Kotor, Waspadalah!

Seperti apa yang saya sampaikan pada postingan sebelumnya, saya adalah salah seorang diantara sekian banyak orang yang tidak mengerti dunia perpolitikan di negeri ini. Bahkan, saya tidak ingin memahaminya. Selain lingkungan saya yang melarang untuk berbaur dalam dunia politik bangsa ini, juga karena pribadi saya pun tidak tertarik dengan politik. Saya sependapat dengan Soe Hok Gie yang mengatakan bahwa politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor.

Peperangan telah dimulai. Mungkin itulah yang ada di kepala para pasangan kepala daerah kita. Hingar bingar yang hanya sekali dalam lima tahun ini adalah sebuah pesta, persis seperti julukannya selama ini, pesta demokrasi! Kibaran bendera, poster, baliho dan alat reklame lainnya terpampang di setiap sudut ruang-ruang publik.

Continue reading “Politik Itu Kotor, Waspadalah!”

Suara Kiai, Suara Rakyat

Sejujurnya tulisan ini hanya merupakan jeritan atau suara hati seseorang  yang tak mampu memahami dunia perpolitikan bangsa ini. Maka sangat wajar jika tulisan ini begitu lugas, tidak seperti tulisan dan bahasa politikus bangsa ini. Semakin hari, semakin sulit dimengerti. Disadari atau tidak, bahasa politik di negeri ini semakin sulit dipahami dan rumit. Hal itu mungkin disebabkan karena bahasa politik di negeri ini tidak lagi menjadi bahasa sosial tapi sudah berubah menjadi bahasa individual. Bahasa politik sudah menjadi bahasa ambisi dan tidak lagi menjadi bahasa nurani. Mungkinkah politik di negeri ini sudah sedemikian jauh dari etika dan nurani?

Postingan ini terinspirasi dari pilkada dan kampanye yang sedang menghangat saat ini. Semua ini dipicu oleh obrolan “profokator-profokator” di jejaring sosial Facebook. Baru disadari  jika akun facebook saya menjadi member group-group pasangan cabup dan cawabup kab. Pamekasan.  Sehingga pada kesempatan ini saya akan mencoba menurunkan pembahasan ini secara singkat terkait polemik subtansial realitas ini. Mudah-mudahan dapat diambil faedahnya, setidaknya sebagai bahan renungan atau perbandingan bagi kita semua.

Continue reading “Suara Kiai, Suara Rakyat”