Review: Tendangan dari Langit


“Waw!” sahutan reflek saya setelah melihat hidangan film tendangan dari langit. Lagi-lagi Hanung Bramantyo mampu menyajikan hidangan yang luar biasa. Dan sajian yang satu ini, ia berhasil mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan penonton tanah air.

Sebagai film yang diproyeksikan untuk sebuah drama keluarga, Hanung sebenarnya sudah membuat Tendangan Dari Langit sebuah sajian insirasional dan ringan, sajian yang mampu menjalankan misinya menggugah semangat para penonton mudanya, termasuk didalamnya suapan petuah-petuah moralnya tentang hubungan anak dan orangtua.

Semangat tidak menyerah, mengejar impian, nasionalisme, roman picisan pra remaja sampai persahabatan. Semuanya terangkum dalam sepak terjang seorang Wahyu, pemuda yang memiliki bakat luar biasa dalam sepak bola. Namun tidak mendapatkan kesempatan karena ia hanya sebagai anak dari penjual minuman hangat dan kerupuk dari desa Langitan, di lereng Gunung Bromo yang terpencil.

Continue reading “Review: Tendangan dari Langit”

Kuliah Prospek Pendidikan Pelengkap Industri

Seorang Ibu berkata kepada anaknya, “nak, kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS). Supaya hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang setiap hari harus bertani di sawah, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang. Coba lihat tetangga kita itu, sekolahnya tinggi, hidupnya enak, dan kamu harus mencontoh dia”.

Sementara dilain pihak seorang ibu berkata, “buat apa sekolah tinggi-tinggi? Dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, lebih baik uang sekolahmu dibelikan sapi, supaya beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada harus dibayarkan untuk sekolah. Coba lihat tetangga kita itu, sekolah jauh-jauh tapi setelah selesai menganggur dan akhirnya sekarang jadi tukang becak!”.

Continue reading “Kuliah Prospek Pendidikan Pelengkap Industri”

Psikologi Modern dalam Konflik, Tasawuf Modern Sebagai Alternatif

Psikologi masyarakat modern saat ini berbeda dengan masyarakat yang terdahulu. Masyarakat modern lebih memprioritaskan kebahagiaan secara umum, mereka menganggap dengan mengumpulkan harta akan membuat bahagia. Ketika semua itu terbukti gagal, maka mereka akhirnya membutuhkan ketenangan batin yang dalam hal ini dibutuhkannya taswuf modern. Sebagai solusi alternatif terhadap polemik yang mereka alami.

Sebenarnya tasawuf dan psikologi sangatlah berbeda. Tasawuf bukan hanya sebagai gejala psikologis, tetapi terdapat muatan keagamaan yang sulit dibuktikan melalui pendekatan empiris. Namun, psikologis agama pada batas-batas tertentu telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pemahaman sikap keagamaan tokoh-tokoh mistik. Paling tidak, dalam konteks sehari-hari tidak jarang dijumpai realitas tentang adanya pengidap gangguan kejiwaan yang memanfaatkan agama sebagai pengabsahan mereka.

Continue reading “Psikologi Modern dalam Konflik, Tasawuf Modern Sebagai Alternatif”