Beragama Tapi Tidak Bertuhan

Selama ini kita memliki asumsi bahwa religius (agama) dan spritual (ketuhanan) adalah suatu konsepsi yang sama. Bahkan terkadang kata religius menggantikan kata spritual ataupun sebaliknya dalam pemahaman sehari-hari.

Religius dan spritual merupakan dua buah konsep (kata) yang berbeda. Pada catatan kali ini saya tidak akan mendiskursuskan ke arah filsafat dalam memisahkan dan menjelaskan kedua kata ini. Melainkan memberikan sedikit ilustrasi atau gamabaran bahwa keduanya (spritual dan religius) memliki makna yang berbeda.

Continue reading “Beragama Tapi Tidak Bertuhan”

Dinamika Dunia Pendidikan, Sikap Pragmatisme dan Idealisme

Sebuah pengalaman pribadi, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia pendidikan dengan segala dinamikanya, menyimpan beribu-ribu tantangan yang harus dihadapi. Terkadang ada rasa khawatir, rasa tidak mampu hingga kesulitan beradaptasi dengan dunia yang menuntut keahlian.

Bagi seorang fresh graduate seperti saya, mungkin juga dialami oleh teman-teman sekalian yang masih dibangku kuliah, dunia pendidikan yang sesungguhnya hanyalah dalam angan-angan, atau bahkan masih diluar angan-angan. Bagi sebagian fresh graduate, berkecipung dalam dunia pendidikan (baca: praktisi pendidikan) adalah sebuah hal yang sulit, apalagi memiliki penyakit pesimis, merasa tidak mampu bahkan merasa tidak berguna. Keadaan inilah yang membuat seorang fresh graduate tidak mengenal lagi akan idealis keilmuan atau latar belakang pendidikan. Sehingga tidak heran jika seorang sarjana pendidikan bahasa inggris, bekerja sebagai tukang ojek.

Continue reading “Dinamika Dunia Pendidikan, Sikap Pragmatisme dan Idealisme”

Surat Untuk Freud

Suatu ketika Albert Einstein menulis surat kepada “Sigmund Freud” prihal menanyakan pendapatnya; ‘apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan?’. Sebagai ahli ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat esainya yang terkenal – “Mengapa Perang?”. Freud menguraikan tentang adanya dua insting pokok manusia, yakni insting cinta dan insting benci. Insting cinta itu dan mencintai sesamanya, hal ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tapi insting ini juga sekaligus membawa insting kebencian apabila sikap cinta kasihnya terhadap orang lain disertai dengan “niat memiliki” yang dicintainya itu. Dengan itikad memiliki maka terjadilah penguasa, kolonialisme, diktator dari si pecinta kepada yang dicintai.

Continue reading “Surat Untuk Freud”